Satu Ayat, Dua Masjid
Di permulaan surah ke-17 Al-Qur’an, Allah berfirman dalam satu ayat yang sangat masyhur: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkati sekelilingnya.” (QS Al-Isra: 1). Ayat inilah dasar penamaan perjalanan “Isra” — perjalanan malam — yang kemudian dilanjutkan dengan “Mi’raj” — kenaikan ke langit.
Bagi umat Islam, ayat ini menempatkan Masjidil Aqso sebagai masjid kedua yang disebut dalam Al-Qur’an setelah Masjidil Haram, sekaligus menjadi dasar sejarah spiritual kota Yerusalem dalam tradisi Islam.
Bagaimana Riwayatnya Diriwayatkan
Dalam rangkuman riwayat paling awal yang dicatat Ibn Sa’d, malaikat Jibril membawa Rasulullah SAW ke dekat Ka’bah, di antara Zamzam dan Maqam Ibrahim. Di sana, menurut riwayat itu, diturunkan Buraq — kendaraan putih secepat kilat — dan perjalanan pun dimulai ke arah utara, menuju Baitul Maqdis.
Setibanya di Masjidil Aqso, menurut riwayat, Rasulullah SAW salat dua rakaat sebagai penghormatan, lalu Mi’raj dilanjutkan ke langit. Di sana beliau bertemu para nabi terdahulu, menerima perintah salat lima puluh rakaat yang akhirnya diringkas menjadi lima waktu — inti dari kisah yang dikenal luas oleh umat Islam.
Mengapa Malam Itu Penting
Peristiwa Isra Mi’raj terjadi dalam periode sulit bagi umat Islam — menurut penanggalan tradisional, sekitar tahun ke sepuluh kenabian, ketika Rasulullah baru kehilangan pamanda dan istri tercinta, Khadijah RA. Banyak ulama menafsirkan perjalanan agung itu sebagai penghiburan ilahi sekaligus penguat misi kenabian.
Bagi Yerusalem sendiri, malam itu menempatkan kota itu dalam memori kolektif umat Islam — itulah sebabnya setiap jamaah ziarah yang datang ke Masjidil Aqso merasa sedang menapaki jejak langsung perjalanan Rasulullah SAW.
Kiblat Pertama dan Warisan Lain
Sebelum kiblat dialihkan ke Ka’bah pada masa Madinah, umat Islam dahulu salat menghadap Baitul Maqdis. Fakta ini membuat Masjidil Aqso dikenal sebagai kiblat pertama umat Islam — sebuah status yang tetap melekat hingga kini dalam doa, zikir, dan panduan ziarah.
Kompleks yang kini dikenal sebagai Masjidil Aqso mencakup Masjid Qibli di sisi selatan dan Kubah Shakhrah di tengah — dua bangunan yang menjadi saksi bisu kesinambungan sejarah ibadah di lokasi tersebut.
Menapaki Jejak Isra Mi’raj Hari Ini
Jamaah ziarah biasanya memulai dari Kota Tua Yerusalem, melewati gerbang-gerbang bersejarah menuju kompleks Masjidil Aqso, lalu melanjutkan ke Bukit Zaitun di timur kota — lokasi yang dalam tradisi Kristen Islam dihubungkan dengan akhir hayat Nabi Isa AS. Rute ini menjadi inti program ziarah Aqso dan umroh plus Aqso.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah musim semi (Maret–Mei) dan musim gugur (Oktober–November), ketika udara Palestina paling bersahabat bagi jamaah Indonesia.
Tradisi Peringatan dan Kajian Ilmiah
Dalam tradisi umat Islam, peristiwa ini biasa diperingati pada malam ke-27 Rajab — meskipun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum dan cara memperingatinya. Yang tidak diperdebatkan adalah muatan spiritualnya: perintah salat lima waktu, penghiburan bagi Rasulullah SAW, dan pengangkatan derajat kenabian.
Para ulama klasik seperti Ibn Hajar dan al-Qastalani merangkum ratusan hadits tentang Isra Mi’raj dalam karya-karya sirah mereka. Di masa modern, kajian tentang peristiwa ini terus berkembang — termasuk analisis historis tentang latar belakang kota Yerusalem pada abad ke-7 M yang menjadi panggung perjalanan agung tersebut.